Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Wednesday, November 23, 2016

Reward and punishment buat Guru, penting.

Bila kita bicara soal pendidikan, maka tak bisa dilepaskan betapa penting dan strategisnya posisi guru di dalamnya.  Umpama sebuah kendaraan bermotor, posisi guru mirip dengan karburator. Meski tak disembunyikan, posisi karburator pada setiap kendaraan bukanlah ditempatkan pada bagian luar yang gampang atau langsung dilihat. Karburator punya kapasitas kerja sendiri yang berbeda dengan komponen lainnya. Untuk menghasilkan energi gerak yang diharapkan  pada kendaraan, karburator mesti mendapat suplai bahan bakar dan pengapian yang cukup.  Bila tidak, dapat dipastikan mesin kendaraan tersebut tak akan menjalankan kendaraan dengan baik.  Saking strategisnya posisi karburator, maka dia harus dirawat  dan dipelihara dengan baik.

Demikian juga guru, perlu dipelihara dan dirawat agar dunia pendidikan kita bisa berproses dengan baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Guru harus diperlakukan adil.

Disamping soal bobot kerja dan gaji yang memadai, masih banyak faktor yang harus dipenuhi untuk bisa memelihara dan merawat guru dengan baik. Salah satunya memperlakukan mereka dengan adil.
Banyak catatan yang tercecer tentang ketidakadilan terhadap guru. Dibeberapa kecamatan di Kabupaten Karawang ini tidak sedikit guru berprestasi, disiplin dan kesetiaan pada profesinya yang melekat. Tapi tidak menjadi perhatian para pemangku kebijakan. Bahkan dinilai sebagai hal yang biasa-biasa yang memang seharusnya seperti itu. Sikap para pemangku kebijakan seperti itu tentu benar, bila perlakuan terhadap guru yang melanggar disiplin kerja, dikenakan sangsi yang nyata. Ada beberapa potret guru yang terus menerus melanggar disiplin kerja, dengan meninggalkan tugas berhari-hari, dan itu rutin dilakukan setiap bulan, tapi dia tetap menerima gaji, tetap mendapat tunjangan-tunjangan, bahkan kenaikan pangkat sebagaimana yang diterima oleh guru-guru yang disiplin. Bukankah ini sebuah ketidakadilan terhadap guru ?

Reward and punishment.


Para pemangku kebijakan harus berbuat adil pada guru. Lakukan penilaian yang objektif disertai dengan penghargaan nyata (reward) pada setiap guru berprestasi, disiplin serta setia melaksanakan tugasnya dengan baik. Penghargaan tidak selalu harus berwujud materi, tapi sebuah penghargaan yang bisa menjadi motivasi bagi setiap guru untuk selalau melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan bagi mereka, guru yang melanggar disiplin, tidak melaksanakan tugas , dan  terutama guru-guru yang sudah berlangganan tidak masuk sekolah mesti diberikan hukuman yang nyata (punishment), berupa penangguhan pembayaran gaji, pembatalan pemberian tunjangan, atau penangguhan kenaikan pangkat, atau sangat mungkin penurunan pangkat atau pemecatan. Bukankah guru juga diatur dalan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil ?

Pondokbales. akhir Nopember 2016

Thursday, November 3, 2016

Logika NUSRON tentang sikap ummat Islam.


Tulisan ini saya temukan dari sebuah coment FB akun Zesan. Saya tertarik dengan logika yang dipergunakan Nusron tentang sikap ummat Islam yang dinilai Nusron cepat marah.
Saya tampilkan kembali tulisan tersebut dengan tujuan untuk menjadi pembelajaran bagi banyak orang untuk menggunakan logika dengan sehat.
=====================

Suatu hari Nusron Purnomo mengadakan seminar di salah satu kampus. Nusron mulai berceramah. Ia berbicara tentang fenomena umat Islam yang menurutnya pemarah. Ada yang memprotes adzan, marah. Ada yang membakar Al Quran, marah. Ada yang melecehkan Al Quran, marah.

Padahal menurutnya, yang dibakar itu hanya kertas. Sedangkan Al Quran yang sebenarnya ada di Lauhul Mahfudz. Tak bisa dibakar, tak bisa dilecehkan.

“Saya benar-benar heran dengan umat Islam. Terlalu lebay. Hanya karena ada yang menginjak mushaf Al Quran, mereka marah lalu ribuan orang menggelar demonstrasi di mana-mana. Padahal yang dibakar itu cuma kertas. Hanya media tempat menulis Al Quran. Al Quran aslinya ada di Lauhul Mahfuzh. Saya pikir mereka harus dicerdaskan soal ini.” kata Nusron.

Ruang kuliah itu hening beberapa saat. Sebagian mahasiswa agaknya setuju dengan pemikiran Nusron Purnomo. Hingga kemudian, seorang mahasiswa mengacungkan tangan dan maju ke depan.

“Memang Al Quran itu, hakikatnya ada di Lauhul Mahfuzh,” katanya sambil berjalan mendekati Nusron.

“Boleh saya melihat makalah Bapak?” Wajah mahasiswa lainnya menegang. Mereka khawatir akan ada insiden yang tidak terduga antara mahasiswa tersebut dengan Nusron.

“Makalah ini bagus Pak,” Wajah-wajah yang tadinya sempat tegang kini normal kembali. Nusron yang asalnya manyun, menjadi tersenyum kecut. Namun itu hanya sesaat, karena setelah itu, mahasiwa tersebut melempar makalah ke lantai kemudian menginjaknya.

Tak cukup menginjak. Ia ludahi makalah itu kemudian ia injak-injak lagi. Praktis makalah tersebut menjadi kotor dan rusak.

Nusron Purnomo melotot. Mukanya merah padam. Bibirnya menjeletot. Kedua telapak tangannya menggenggam erat.

“Kurang ajar! Kamu menghina karya ilmiah saya. Kamu menghina pemikiran saya." kata Nusron sembari melayangkan tangannya ke arah mahasiswa. Namun, dengan cekatan mahasiswa itu menangkisnya.

“Marah ya Pak? Saya hanya menginjak kertas. Saya hanya meludahi kertas. Saya hanya melecehkan kertas. Saya tidak melecehkan pemikiran Bapak karena pemikiran Bapak ada di kepala Bapak. Saya kan tidak menginjak kepala Bapak. Saya pikir Bapak harus dicerdaskan soal ini.” kata mahasiswa.

Mendengar itu, Nusron Purnomo tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia seperti mendapatkan serangan balik yang mematikan. Segera, buku-bukunya dikemasi dan ia meninggalkan ruang kuliah itu dengan muka merah padam.

Saudaraku...
Umat Muslim ini seperti Lebah..
Dimanapun hinggap, tidak akan merusak atau mematahkan ranting..
Diamnya lebah, memproduksi madu dan kebaikan...
Tapi jangan ganggu mereka...
Karena kalo diganggu, mereka pasti akan mempertahankan Kehormatannya...

Thursday, October 6, 2016

Banyak orang bisa "mengajar", tapi tak mudah untuk "mendidik".

Sangat memprihatinkan. Siang hari lepas anak sekolahan keluar, dihari Rabu 5 Oktober 2016 terjadi sebuah peristiwa tawuran antar pelajar yang mengakibatkan satu orang tewas kena sabetan senjata tajam di bagian dada dan punggung.
Peristiwa itu terjadi di sebuah tempat di Desa Dorowolong Kecamatan Purwasari. Lokasinya memang sangat mungkin bisa terjadi, jalan desa antara dua dusun yang jaraknya cukup jauh, sunyi, sepi, hanya pesawahan dan gerombolan pepohonan yang menjadi saksi. Selompok pelajar dari SMK PGRI Lemahabang berhadapan dengan kelompok lain dari SMK Purwasari. Dua kelompok pelajar tersebut bertemu dan berduel saling serang saling hantam menggunakan pekakas yang mereka bawa. Akibatnya seorang dari kelompok SMK PGRI Lemahabang, Asep Gani terkena sabetan senjata tajam di bagian punggung dan dada, terluka parah. Melihat kawannya terluka dan terkapar pelajar SMK Lemahabang lainnya berusaha menolong dan membawanya ke klinik di Desa Drowolong yang jaraknya sekitar kurang dari satu kilometer. Sementara kelompok musuh berusaha lari meninggalkan tempat itu. Tapi karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Asep Gani meninggal.

Cerita di atas saya tulis berdasarkan cerita-cerita yang saya peroleh pada hari Kamis 6 Oktober dari masyarakat setempat, ketika saya mencoba mencari tau kejadian terebut di TKP.

Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, bukan proses apa setelah kejadian itu, tapi ingin mencoba melakukan analisa, mengapa peristiwa itu mesti terjadi.

Sebagai seorang (mantan) guru, saya jadi malu sendiri. Anak-anak yang seharusnya terdidik ternyata tidak jauh berbeda dengan gerombolan binatang yang haus akan darah mesti darah itu darah saudaranya sendiri. Tentu ada yang salah. Entah kesalahan itu ada di dalam sistem pendidikan kita atau dalam sistem masyarakat. 
Terlalu banyak pertanyaan di benak ini untuk diungkapkan sebagai wujud tanggung jawab, baik sebagai warga biasa maupun sebagai mantan guru. Mesti ada kejujuran dari kita semua untuk mengintrosfeksi diri. Sebagai warga biasa, saya menghimbau kepada siapapun, dimanapun, agar mau melakukan upaya-upaya pencegahan, dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan sosial di tempat masing-masing untuk peduli terhadap penyimpangan-penyimpangan terutama yang dilakukan generasi muda di sekitar kita. Jangan apatis, jangan masabodoh. 

Sebagai warga negara, saya menghimbau Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah kebijakan, baik yang menyangkut kebijakan sistem pendidikan maupun kebijakan-kebijakan yang menyangkut peradaban di masyarakat. Tidak cukup dengan jawaban bahwa pemerintah telah melakukan itu telah melakukan ini. Faktanya banyak hal buruk terjadi.
Saya sangat yakin ada yang salah di dalam sistem pendidikan kita. Saya melihat, Guru lebih banyak mengajar dengan mengabaikan mendidik. Banyak orang bisa "mengajar", tapi tak mudah untuk "mendidik".Begitu pula ada banyak yang perlu diperbaiki dalam kebijakan bermasyarakat kita. 

Saya sangat yakin semua ini bisa dilakukan asal ada komitmen dan kemauan yang keras, terutama bagi pemerintah, mengingat negara sudah memberi wewenang untuk memanfaatkan uang-uang negara (APBN,APBD) untuk membangun kesejahteraan rakyat , dengan syarat pemerintah harus kompak atar komponen, baik dengan jajaran horizontal maupun vertikal.




Friday, July 15, 2016

Mengenang KH. A.F. Ghazali: Menuliskan Tradisi Lisan Sunda

K.H. A.F. Ghazali sepertinya bukan nama yang asing bagi masyarakat Muslim Sunda, terutama kalangan pesantren dan masyarakat di desa-desa di tanah Pasundan ini. Namanya adalah jaminan untuk urusan ceramah (dakwah billisan). Pada setiap kesempatan ceramahnya, ia memilih bahasa Sunda sebagai medium menyampaikan pesan-pesan agama kepada audiensnya. Pilihan tersebut disadari betul dalam konteks dirinya sebagai manusia Sunda yang dibesarkan dalam rahim kebudayaan Sunda. Dan, bukankah para nabi juga menggunakan bahasa lokal atau ujaran kaumnya (billhughati qaumihim) dalam menyampaikan risalah kepada umatnya.
Strategi tersebut boleh jadi menginspirasi Ghazali untuk memilih bahasa Sunda sebagai pengantar dalam dakwahnya. Hasilnya, ceramah-ceramah yang disampaikan Ghazali tidak hanya menjadi tontonan di panggung dan momen pengajian, tetapi juga menjadi tuntunan yang menelisik lubuk terdalam kesadaraan para jemaahnya.
Tidak semua da’i memiliki keahlian berceramah yang memikat seperti Ghazali. Maka, dalam konteks tersebut, ceramah menjadi skill dan seni tersendiri yang tidak hanya bernilai profan (duniawi), tetapi juga berdimensi sakral (suci) bagi umat Islam. Ceramah, dalam konteks ajaran Islam tidak lain merupakan perwujudan titah Tuhan untuk amar
makruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Akan tetapi, untuk ibadah seperti itu, tidak semua orang Muslim mampu menjalankannya dengan halus, santun, bahkan jenaka seperti yang dilakukan Ghazali. Ia piawai mengemas ajaran-ajaran Islam dengan bahasa Sunda bagi khalayak sasarannya yang utama, yaitu penduduk desa di Jawa Barat. Bahasa asli penduduk Jawa Barat adalah bahasa Sunda, yang dewasa ini digunakan oleh kurang lebih 27.000.000 orang (Julian Millie: 2008).
Bahasa Sunda termasuk bahasa lokal penduduk Indonesia yang sudah tua, namun bahasa Sunda menjadi salah satu bahasa yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (modernitas) seperti yang dilakukan oleh bahasa nasional Indonesia. Karena pada aktivitas sosial sehari-hari, masyarakat Sunda kontemporer lebih mengandalkan bahasa Indonesia. Maka, tidak heran jika beberapa ujaran dalam ceramah Ghazali, baik yang berbentuk rekaman kaset, apalagi dalam bentuk tulisan, seperti terhimpun dalam buku Agama Rakyat: Ceramah-ceramah A.F. Ghazali, banyak yang asing bagi generasi muda Sunda kontemporer.

Maret 2008 lalu sebuah buku unik berjudul The People`s Religion : The Sermons of A.F. Ghazali (Agama Rakyat: Ceramah-ceramah A.F. Ghazali) diluncurkan. Buku tersebut merupakan hasil transkripsi dari ceramah-ceramah sang dai yang selama ini terdokumentasikan dalam bentuk rekaman kaset. Dari puluhan tema ceramah yang terrekam dalam
kaset, buku yang ditulis Julian P. Millie –peneliti dari Monash University Australia– memilih empat tema sebagai topik yang ditulis, “Ayat-ayat Allah”, “Ngabageakeun Muharam”, “Tobat”, dan “Tugas Risalah”. Hasilnya adalah satu format buku bilingual, bahasa Sunda dan bahasa Inggris.
Buku ini boleh jadi yang pertama dalam jenisnya. Menuliskan ceramah dai kondang memang sudah banyak dilakukan. Namun, upaya tersebut biasanya dengan mengubah bahasa lisan (ceramah) menjadi bahasa tulisan. Konsekuensinya, banyak unsur dalam bahasa ujaran tersebut yang hilang karena harus tunduk pada aturan gramatika dan sense yang
lazim dalam bahasa tulis. Nah, pada konteks ini, buku tersebut menjadi berbeda. Pasalnya, buku tersebut sepenuhnya menuliskan ceramah Ghazali dalam bentuk aslinya, yaitu bahasa lisan. Tujuannya, seperti diungkap penulisnya dalam pengantar buku tersebut bahwa format seperti itu untuk menangkap norma-norma kebudayaan dan keagamaan di lingkungan sosial tertentu, yakni masyarakat Sunda. Dengan tetap mempertahankan ungkapan aslinya, maka menuliskan ceramah dalam buku ini merupakan upaya untuk mempertahankan watak lisan dari ceramah tersebut.
Akan tetapi, cara seperti itu, mentranskrip bahasa lisan, memiliki kelemahan tersendiri. Hal demikian juga disadari oleh penulis buku ini. Maka, ketika ceramah itu menjadi tulisan, walhasil, ceramah-ceramah tersebut menjadi asing bagi pembaca. Konvensi dan kebudayaan yang diungkapkan oleh Ghazali boleh jadi terbilang baru bagi sejumlah orang. Namun, terlepas dari hal itu, bahasa lisan memiliki koherensi dan logika yang berbeda dari yang terdapat dalam
tuturan tulisan. Dalam bahasa ujaran, gagasan-gagasan tidak selalu runtut betul dan dialog-dialog yang diciptakan oleh sang dai dengan khalayaknya tidak mudah diungkapkan dalam tulisan.
Tradisi lisan yang identik dengan masayarakat tradisional lebih banyak berbentuk dongeng, mitos, pantun, dan jampi-jampi yang diwariskan dan dikonservasi melalui ujaran dari satu generasi ke generasi penerusnya. Namun, sering kali tradisi tersebut punah di tengah pusaran zaman. Maka dengan itu, masyarakat tersebut tidak hanya kehilangan satu khazanah bahasa lisan, tetapi juga nilai dan episteme dari masyarakat penutur bahasa tersebut.

Ceramah bisa jadi merupakan metamorfosis tradisi lisan dalam masyarakat Sunda yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Terlebih, ceramah yang menggunakan bahasa lokal seperti bahasa Sunda adalah suatu kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Sunda itu sendiri. Tradisi lisan merupakan cerminan identitas masyarakat atau golongan tempat mereka hidup. Tentu saja, khazanah tersebut tidak boleh hilang hanya karena sang penutur, sang dai, meninggal dunia.

Sunday, July 3, 2016

Banyak Guru "dipolisikan" ortu, karena "mendidik".

Miris. Perasaan itulah yang timbul dari kaum guru di negri ini, ketika bermunculan berita beberapa orang guru dilaporkan kepada yang berwajib oleh orang tua siswa, karena guru dituduh telah melakukan penganiayaan pada muridnya.
Seorang guru SMP Negeri 1 di Kabupaten Bantaeang, Sulawesi Selatan, sempat  masuk ruang tahanan. Guru tersebut bernama Nurmayani Salam. Ibu Maya dipolisikan orang tua anak didiknya sendiri karena mencubit muridnya yang menolak mengikuti solat dhuha.

Ditempat lain, seorang guru SD di kecamatan Dabo Kabupaten Lingga Kepri dipolisikan, juga oleh orang tua anak didiknya sendiri karena mencubit paha muridnya hingga meninggalkan bekas lebam, sebagai hukuman sang murid yang tak bisa menghafal Asmaul Husna.

Muncul lagi kasus di Sidoarjo Jawa Timur,  guru SMP Raden Rachmat di Dusun Serbo, Desa Bogempinggir, Kecamatan Balongbeno, Sidoarjo dipolisikan atas kejadian pencubitan kepada siswanya pada 3 Februari 2016 lalu. Samhudi mencubit siswa tersebut karena tak mengindahkan peraturan sekolah untuk melaksanakan sholat dhuha berjamaah.

Dalam persidangannya di Pengadilan Negeri Sidoarjo, niat baik Samhudi itu harus berhadapan dengan jeratan pasal 80 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hal tersebut tentu saja membuat banyak rekan-rekan Samhudi sedih sekaligus miris melihat kasus ini.  

Beberapa rekan guru (senior) pernah menceritakan pengalamannya pernah memukul tangan siswa dengan kayu penggaris, atau dengan bambu kecil penunjuk. Itupun pernah membekas. Bahkan ada yang pernah menempeleng siswanya hingga memar memerah. Itu tidak pernah bermasalah, apalagi sampai ke ranah hukum. 
Saya tidak bisa memberikan penilaian kondisi mana yang lebih baik, apakah dulu atau sekarang. Yang jelas, guru saat ini, dalam melaksanakan tugas profesinya dihantui perasaan takut. Akibat perasaan itu, tidak sedikit para guru yang berkomentar untuk tidak terlalu peduli dengan perilaku anak didiknya. Seperti yang ditulis oleh guru di akun FB: 

Eny Pebriany Herman Susanto@ yach saya jg sbg guru..jdi bingung mau mendidik anak"..guru tegas& disiplin tar di bilangnya galak...jdi akhirnya kita para guru berpikiran ..yach udahlah dari pada dpt masalah dgn ortu murid guru akhirnya masa bodoh..mau pintar mau gak anak orang ini..

Ujang Ahmad Sampaikan materi yg ada pada kurikulum berilah contoh yg baik dan teladan bagi anak didik setelah itu selesailah tugas guru. Permasalahan anak di luar tidak sesuai yg di contoh kan oleh guru di sekolah itu perkara lain karna guru itu di batasi dg waktu karna pendidikan bukan sepenuhnya tanggung jawab guru di luar masih ada pendidikan orang tua dan lingkungan .

(bersambung)





Friday, March 4, 2016

Akun heboh Ina Si Nononk ditanggapi Kak Seto

Dua hari ini nitizen FB dihebohkan dengan postingan gambar dua remaja berbuat mesum di sebuah hotel. Dalam foto postingan di akun Ina Si Nononk nampak jelas dua remaja tanpa busana hanya menggunakan selimut setengah dada di tempat tidur, diduga telah melakukan mesum. Pemilik akun diperkirakan siswa sebuah SMP di Cilamaya. 
Sontak koment-koment yang mencemooh, mengecam dan mencaci perilaku dua remaja itu yang dinilai telah menyebar luaskan aib sendiri dan seolah bangga dengan perbuatan hinanya itu.

Kak Seto, Psycholog Anak sempat mengomentari hal tersebut, seperti dirilis JPPN.
“Inilah dampak dari tayangan yang mengarah kepada pornografi. Anak-anak yang beranjak baru gede sangat riskan mencontoh ke arah pornografi,” ujar Kak Seto saat dihubungi JPNN, Kamis (3/3)
Selain itu, ada peran guru di sekolah serta kepedulian lingkungan dan tetangga sekitar yang juga harus ditingkatkan. “Orang tua baru sadar kalau anaknya sudah kenapa-kenapa, ini yang sangat disayangkan,” tegasnya. 
Menurutnya, peran dan pengawasan orang tua terhadap anak-anak harus lebih ditingkatkan.  Kak Seto melihat selama ini para orang tua kerap cuek dalam memberikan pengawasan kepada anaknya.
Selain itu, ada peran guru di sekolah serta kepedulian lingkungan dan tetangga sekitar yang juga harus ditingkatkan. “Orang tua baru sadar kalau anaknya sudah kenapa-kenapa, ini yang sangat disayangkan,” 

Thursday, March 3, 2016

Gaya Hidup Anak Muda Sekarang Mencemaskan

Curhat.
Sebagai seoarang guru, saya sangat mencemaskan perilaku sebagian anak muda jaman sekarang. Saya lihat sendiri, saya saksikan sendiri, berbagai prilaku anak-anak muda terutama yang masih mengenakan seragam sekolah, cenderung kriminal (mengarah ke tindak pidana) yang seharusnya merefleksikan hasil didikan di sekolah malah justru sebaliknya. Saya tidak serta merta menyalahkan anak-anak, sebab anak-anak itu berada dalam situasi kejiwaan (psikologis) yang disebut adolosensi. Masa perubahan dari anak-anak menjadi manusia dewasa, baik pisik maupun psikis. Dan itu berproses.

Dalam masa itu, anak-anak perlu bimbingan orang lain terutama orang tua dan guru. Sayangnya, anak-anak muda sekarang lebih banyak menolehkan pandangannya pada dunia lain selain orang tua dan guru. Yang saya maksud, anak muda sekarang sudah terlalu jauh melihat, memperhatikan, meniru, mencoba dan melakukan sesuatu yang belum sesuai dengan kondisi pisik dan psikologisnya. 

Hadirnya tayangan televisi dengan acara yang dianggap"lebih maju" justru menjadi penyebab berpalingnya anak-anak dari orang tua dan guru. Terlebih ketika arus teknologi informasi yang semakin hari semakin mudah, murah dan terbuka. Lihatlah anak-anak kita memainkan HP gadget, membuka fitur-fitur yang seharusnya hanya bisa dilihat oleh orang-orang dewasa. Lihatlah anak-anak kita memainkan "game" yang memuat adegan-adegan kekerasan dan kejahatan. Semua bisa dilihat. "Kemampuan" anak-anak kita ini terkadang menjadi kebanggaan bagi sebagian orang tua. Mereka tidak faham apa akibat psikologis dari kemampuannya itu yang bisa mendorong anak-anak kita meniru dan melakukannya.

Keadaan seperti ini berakibat menjauhnya arah perkembangan psikologis anak-anak kita dari arah yang kita inginkan, yaitu anak-anak yang berkembang ke arah berakhlaq mulia, taat pada agama,  berilmu serta memiliki keterampilan, beretos kerja, mandiri dan penuh cita-cita untuk lebih maju dan sejahtera.

Saya hanya bisa menghimbau para orang tua dan guru untuk menyadari keadaan ini, yang kemudian dicarikan solusi mengatasinya. Dan ini harus dilakukan secara massiv, baik oleh orang tua maupun guru.

Sunday, February 21, 2016

PKBM MELATI Siap hadapi UN 2016.

Warga Belajar PKBM Melati
Tempuran - Pendidikan menjadi kebutuhan penting bagi setiap orang untuk menjadi manusia mandiri, dalam arti dapat hidup sejajar dengan orang lain dalam meraih kehidupan yang layak. Tak terkecuali warga yang tidak mendapat kesempatan untuk  menempuh pendidikan formal. Mereka masih berusaha untuk mendapatkan pendidikan dengan cara mengikuti pendidikan non formal.
PKBM MELATI yang beralamat di Dusun Burandul Desa Dayeuhluhur Kecamatan Tempuran  Kabupaten Karawang merupakan lembaga pendidikan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan non formal bagi warga di sekitarnya. Tercatat ada  10 warga belajar Kelompok Belajar Paket A,  20 warga belajar Kelompok Paket B dan  41 warga belajar Kelompok Paket C.
Warga belajar PKBM Melati tersebut sebagian besar masih usia muda. Tertua berusia 26 tahun. Mereka beralasan tak mampu bersekolah ke sekolah formal karena keterbatasan kemampuan biaya yang dianggap mahal. Walau demikian mereka bersemangat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi meski lewat jalur non formal.
Dra. Engkom Komariah Direktur PKBM Melati mengatakan bahwa dirinya rela mengorbankan dirinya, baik tenaga, pikiran bahkan uang hanya untuk membantu warga sekitar untuk berkesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Sampai saat ini PKBM Melati masih menempati bagian dari rumah pribadinya. PKBM yang didirikan sejak 2007 itu telah banyak menghasilkan lulusan yang saat ini telah terbukti bisa melanjutkan pendidikannya bahkan ke perguruan tinggi, banyak pula yang sudah mendapatkan pekerjaan yang layak.
Menjelang pelaksanaan ujian nasional yang akan digelar April mendatang, Engkom menyatakan siap melaksanakannya. Hal itu turut juga diamini warga belajar yang saat itu hadir.
Diakhir perbincangan, Engkom Komariah yang juga seorang Kepala SD di Kecamatan Tempuran berharap PKBM yang dipimpinnya bisa lebih maju. Salah satunya dia berharap ada pihak-pihak memberikan batuan, terutama pemerintah. Engkom juga mengaku PKBM yang dipimpinnya pernah mendapat bantuan pemerintah pada tahun 2014.


Ini di Palembang, 60 Kepsek Terancam Jadi Tersangka

Majelis hakim persidangan Pengadilan Negeri (PN) Kelas I A Palembang, Junaidah SH MH, Kamis (18/2) menegaskan, 60 kepala sekolah SD, SMP, SMA, dan SMK di Kota Palembang yang terbukti memberikan sejumlah uang sebesar 10 persen dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Rehab Sekolah Tahun 2012-2013 dapat ditetapkan menjadi tersangka.
Hal itu ditegaskan hakim dalam persidangan terdakwa Hasanuddin (mantan Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan dan Subsidi Disdikpora Palembang dan terdakwa Rahmat Purnama (mantan Kepala Seksi Bangunan Gedung dan Perabotan Disdikpora Palembang), yang terjerat kasus dugaan korupasi DAK Anggaran Rehab Sekolah Tahun 2012-2013 Disdikpora Palembang yang mengakibatkan  kerugian negara mecapai Rp 3,4 miliar.
Dimana dalam persidangan kemarin, dari 30 kepala sekolah yang dijadikan saksi dalam kasus dugaan ini, 26 kepala sekolah dihadirkan JPU menjadi saksi kedua terdakwa.
Ke-26 kepala sekolah tersebut terdiri dari 13 saksi untuk terdakwa Hasanuddin, mereka yakni; ‘MU’, ‘MA’, ‘NU’, ‘MG’, ‘ES’, ‘RZ’, ‘JE, ‘PS’, ‘AR’, ‘MD’, ‘RO’, ‘MY’, dan ‘MS’.
Sedangkan 13 saksi lainnya menjadi saksi untuk terdakwa Rahmat Purnama, mereka yakni; ‘SS’, ‘HTR’, ‘MN’, ‘SP’, ‘QR’, ‘AS’, ‘Hj MZ’, ‘NA’, ‘IL’, ‘NI’, ‘RW’, ‘PU’, serta ‘MI’.
Dikatakan Mejelis Hakim Junaidah SH MH, dalam Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), pihak pemberi suap dan penerima uang suap bisa dikenakan pidana. Apalagi dalam kasus dugaan ini, uang DAK yang diterima, 10 persennya diduga diserahkan kepala sekolah kepada terdakwa tanpa adanya paksaan. Karena itu kepala sekolah yang terbukti memberikan uang itu sama saja dengan menyuap dan bisa dijadikan tersangka dalam kasus dugaan ini.
“Bapak dan ibu (26 saksi Kepala sekolah) sebagaian dari 60 kepala sekolah yang menjadi saksi dalam kasus dugaan DAK ini. Nanti semuanya (60 kepala sekolah) juga akan kami sidangakan disini. Karena saat memberikan 10 persen uang dari anggaran DAK, dilakukan tanpa dipaksa dengan pisau atau diancam akan dimutasi serta diberhentikan dari jabatan kepala sekolah. Jadi kalian (saksi), dengan sadar memberikan uang itu, ini namanya suap dan bisa kena pidana,” tegasnya.
Masih dikatakannya, apalagi dalam kasus dugaan ini ada dugaan yang membuat laporan fiktif untuk menutupi anggaran 10 persen yang diserahkan tersebut. “Ini jelas pidana dan 60 kepala sekolah yang menjadi saksi dalam perkara ini bisa menjadi tersangka dan disidangkan, seperti terdakwa Hasanuddin dan Rahmat Purnama,” ungkap Junaidah SH MH.
Ditambahkan Gustina Ariyani SH MH yang juga Majelis Hakim Persidangan,  dugaan  kasus suap yang diduga dilakukan 60 kepsek ini ada karena memberikan anggaran 10 persen dari DAK, yang tujuannya agar dana alokasi khusus untuk pembangunan sekolah cair.
“Jadi karena adanya dugaan suap makanya dapat ditetapkan sebagai tersangka. Dari itulah kedepan saya harap tidak ada lagi kepala sekolah yang memberikan uang, menerima uang. Karena yang bersangkutan, bisa dijerat pidana Tipikor,” ujarnya.
Pantauan di ruang sidang, dari ke-26 saksi tersebut ada sejumlah kepala sekolah yang terlihat gemetar saat memberikan kesaksian di persidangan. Bahkan juga ada kepala sekolah yang tampak menangis karena matanya terihat merah dan berlinangan ketika dicecar pertanyaan oleh Majelis Hakim.
Sementara saat para saksi ditanya oleh Ketua Majelis Hakim Kamaluddin SH MH terkait jumlah anggaran DAK yang diterima oleh setiap kepala sekolah. Satu persatu kepala sekolah yang menjadi saksi menjawab nominal DAK yang bervariasi mulai dari, Rp 296 juta, 366 juta, Rp 386 juta, Rp 480 juta hingga Rp 495 juta.
“Kalau saya menerima DAK sekitar Rp 296 juta, kemudian 10 persen dari jumlah tersebut sekitar Rp 29 juta saya berikan kepada ‘TA’ yang merupakan koordinator yang mengumpulkan uang itu,” kata ‘RZ’ salah satu Kepala Sekolah menjawab pertanyaan hakim sambari memegang microphone dengan tangan yang gemetar.
Menurut ‘RZ’, awalnya ia bersama kepala sekolah lainnya tidak menyangka jika akan diminta uang 10 persen dari DAK yang diterima.
“Awalnya semua kepala sekolah dikumpulkan oleh Hasanuddin dan Rahmat Purnama di SMPN 13 Palembang. Dalam pertemuan itu, kedua terdakwa mesosialisasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Rehab Sekolah tahun 2012-2013. Saat pertemuan memang tidak disampaikan permintaan uang 10 persen itu. Namun setelah acara sosilisasi, Pak ‘TA’ yang merupakan koordinator menelpon dan meminta uang Rp 29 juta dari 10 persen DAK yang saya terima. Kalau uang DAK carinya tiga tahap, tapi untuk 10 persennya saya berikan kepada ‘TA’ saat tahap pertama pencairan dilakukan,” jelasnya.
Sedangkan saksi lainnya ‘MY’ yang juga kepala sekolah mengaku, terpaksa memberikan uang 10 persen dari DAK yang diterimanya. Hal itu dikarenakan dirinya takut jika ditahun berikutnya sekolahnya taklagi mendapatkan DAK untuk rehab sekolah.
“Kami mau memberikannya karna takut tahun depan tidak lagi diberikan DAK itu. Dari itulah 10 persennya kami serahkan kepada kordinatornya,” ujarnya dengan mata yang terlihat merah dan berlinang.
Usai mendengarkan keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim kembali mengajukan pertanyaan, apakah untuk pencairan DAK tersebut semua saksi mengajukan proposal terlebih dahulu kepada kedua terdakwa.
Menjawab pertanyaan hakim, semua saksi kompak menjawab jika usai pertemuan sosilisasi di SMPN 13 Palembang, mereka semuanya mengajukan proposal. “Ya Pak Hakim, kami semua mengajukan proposal dan kami serahkan kepada kedua terdakwa sebagai syarat agar anggaran DAK tersebut cair,” papar para saksi dipersidangan.
Setelah mendengarkan keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim menutup persidangan dan akan kembali melanjukan sidang pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi lainnya.
Diketahui dalam kasus dugaan ini terdakwa Hasanuddin dan Rahmat Purnama didakwa Jaksa Penutut Umum (JPU) Pasal 12 huruf (e) atau dakwaan kedua pasal 12 huruf (f) Jo Pasal 18 UU RI No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999 tentang pemberatasan tindak pidana korupsi, atau dakwaan subsider Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 ayat (1) Jo Pasal 18 UU RI No 31 tahun 1999, sebagaimana diubah dan dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999, tentang pemberatasan tindak pidana korupsi. (ded)
Sumber : Suara Nusantara.

Wednesday, February 17, 2016

Batik Pare Sagedeng Diduga jadi lahan bisnis Ketua PGRI Karawang

Motif Batik Pare Sagedeng
Karawang – Seorang praktisi pendidikan di Karawang mengeluhkan banyaknya seragam pakaian yang harus dikenakan dalam seminggu. Bagi guru setiap hari Senin wajib mengenakan seragam biru safari, Selasa dan Rabu mengenakan seragam haki, Kamis seragam Putih Hitam, Jumat seragam batik ciri khas Karawang dan Sabtu batik khas sekolah masing-masing. Akibatnya guru berusaha untuk bisa memenuhi “kewajiban” itu dengan merogoh kocek mereka untuk membeli pakaian seragam itu. Bagi yang berkantong tebal, mungkin tidak jadi masalah, tapi bagi guru yang memiliki tanggung jawab keluarga lebih banyak dengan kemampuan keuangan paspasan, tentu akan jadi masalah.

Terbetik kabar, Nandang Mulyana, Ketua PGRI Kabupaten Karawang mengajak seluruh guru di Kabupaten Karawang untuk mengenakan baju batik ciri khas Karawang yang wajib dikenakan setiap hari Jumat dengan baju batik “Pare Sagedeng”. Batik ini hasil kreasi asli Karawang buah karya Hj.Istiqomah. Dalam kesempatan Rapat PGRI yang diikuti seluruh Ketua Cabang PGRI Kecamatan se Kabupaten Karawang, Rabu 27 Januari 2016 Nandang mengaku telah menyiapkan baju batik tersebut kerja sama dengan seorang pengusaha dengan harga 125 ribu rupiah perpotong.   Nandang “menginstruksikan” agar tiap Cabang segera melakukan pemesanan, meski tidak dengan paksaan.
Beberapa Ketua PGRI Cabang yang dikonfirmasi membenarkan hal itu.

Banyak pihak yang menyayangkan tindakan Ketua PGRI itu. Persoalannya, terkesan bahwa dengan posisinya sebagai ketua, dia melakukan bisnis dengan omset yang lumayan besar. Bila jumlah guru di Kabupaten Karawang ada 4 ribu maka tidak kurang uang terkumpul setengah milyar.


Menurut Kalam Sukawijaya, Kepala Uptd Kecamatan Telagasari, persoalannya bukan hanya memancing tuduhan berbisnis, tapi lebih kepada kewenangan. Menurutnya soal pakaian seragam pegawai pemerintah kabupaten yang berhak mengatur adalah Bupati. “Jadi, harus ada dasar hukumnya, harus ada surat yang mengatur hal itu dari Bupati.” ujarnya kepada wartawan, Rabu (17/02)

Saturday, February 13, 2016

5 Guru Honorer Demonstran di Istana Dilaporkan Meninggal Dunia

Jakarta - Sudah 3 hari ribuan guru honorer berdemonstrasi di depan Istana Merdeka, Jakarta. Mereka meminta pemerintah untuk mengangkat mereka sebagai pegawai negeri sipil (PNS). 

Hingga Jumat (12/2/2016), para guru masih bertahan di kawasan Monas. Tak sedikit dari mereka bertumbangan. Bahkan, ada 5 guru dan pegawai honorer yang dilaporkan meninggal dunia.

Ketua Umum Forum Honorer K2 Indonesia, Titi Purwaningsih, mengaku telah mendapat laporan bahwa ada 5 anggotanya yang meninggal dunia. "Satu orang asal Magelang, 3 orang asal Mentawai dan 1 orang asal Cipara," ujar Titi Purwaningsih kepadaLiputan6.com.

Namun, ia memastikan 5 anggota yang meninggal itu bukan saat demonstrasi berlangsung. "Kalau selama aksi, saya pastikan enggak ada. Namun, mungkin saat menjalani perawatan, atau hal lainnya," kata Titi.

Saat ini ia tengah berkoordinasi dengan koordinator wilayah masing-masing untuk memastikan kabar tersebut. Titi menduga ada beberapa faktor yang menyebabkan para guru dan pegawai honorer itu gugur dalam memperjuangkan kesejahteraan mereka.

"Mereka datang dari jauh, tidur di emperan toko, di masjid, di bus, dan di pelataran parkir. Banyak yang sudah berumur tua," ucap Titi.

"Kami masih berkoordinasi, apalagi saya baru keluar Istana. Tapi laporan atas meninggalnya 5 orang itu memang benar. Sejak tanggal 10 Februari hingga hari ini (Jumat) sudah 5 orang meninggal, baik itu dalam perjalanan pergi atau pulang demo. Tapi saat demo berlangsung, tak ada yang meninggal," Titi menegaskan (Liputan6.com)
.

Sebagian besar Pengawas Sekolah di Karawang terancam dibebas tugaskan

Karawang, - Entah apa yang terjadi di kalangan birokrasi pemerintah Kabupaten Karawang, pasalnya sebagian besar Pengawas Sekolah, baik yang bertugas di SD, SMP maupun SMA/SMK baru menyadari bahwa kedudukannya sebagai Pengawas terancam dibebastugaskan sementara, apabila selama lima tahun sejak diangkat sebagai Pengawas tidak bisa mengumpulkan angka kridit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi, sebagaimana diatur dalam Permen PAN RB Nomor 21 Tahun 2010 pasal 34. Persoalannya, Permen yang sudah diundangkan dan diberlakukan sejak tanggal 30 Desember 2010 itu sepi dari sosialisasi yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Karawang. Akibatnya para Pengawas Sekolah tidak banyak tahu tentang sangsi tersebut. Menurut data Pengawas di Kabupaten Karawang, puluhan Pengawas, baik Pengawas SD, Pengawas SMP atau Pengawas SMA/SMK yang sudah melaksanakan tugas sebagai Pengawas lebih dari lima tahun bahkan ada yang sudah bertugas hampir sepuluh tahun.
H.Dadang Hermawan,S.Pd, Ketua KKPS Kabupaten Karawang menyayangkan hal itu dan mengaku kaget. Meski peraturan menteri itu sudah lama dibacanya, dia mengaku baru-baru ini menyadari sangsi yang terdapat di pasal 34, setelah dirinya mengikuti sebuah kegiatan Rakor Pengawas di Bandung yang membahas pasal 34 permen tesebut. Selaku Ketua KKPS, apa yang ditemukan di Bandung itu disampaikan di depan pertemuan Pengawas Sekolah se Kabupaten Karawang dalam kesempatan diklat di Hotel Mercure  KCP Karawang beberapa waktu lalu. Reaksinya sudah bisa ditebak. Setelah itu Dadang melapor ke Kadisdikpora Drs.H.Dadan Sugardan,M.Pd agar persoalan tersebut segera ditindak lanjuti, dengan membentuk Tim Penilai Angka Kridit Pengawas Sekolah.
Untuk mengatasi persoalan ini, Dadang Hermawan yang juga Pengawas Sekolah Dasar di UPTD PAUD SD Kecamatan Tempuran,  menganggap bukan tugas dan fungsinya, seharusnya ditangani oleh APSI (Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia), yang sekarang dijabat oleh H. Udan. “Mestinya APSI yang memperjuangkan ini, bukan KKPS. Tapi sayang saat ini APSI Karawang seperti macan ompong.” ungkap H.Dadang Hermawan di kantornya di sela-sela menghadiri Acara RAT koguran, Kamis (11/02/2016)


Sunday, January 10, 2016

Orang-orang Yahudi cerdas-cerdas. Apa rahasianya ?:

DALAM Qur’an, tertulis bahwa kebanyakan dari golongan Yahudi ialah diberi karunia berupa kepintaran akal. Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar ?”
Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.
Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.

Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”
Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.”
Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),”
ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.
Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris.
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun ke belakang,” katanya.Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Di samping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik . Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.
Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus mempraktikkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!
Anda terperanjat?
Itulah kenyataannya, dan bagaimana dengan di negeri kita? Apa syarat kelulusan? Banyak yang hanya dengan syarat mencapai nilai 60 saja, bahkan ada beberapa yang hanya cukup dengan nilai 55 saja, dan malah banyak yang di katrol. Praktek Kerja Lapangan hanya sekedarnya, tidak benar-benar memikirkan sebuah proyek yang berguna bagi umat. Setidaknya, ini yang harus kita cermati dan perbaiki.
Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin? []
Sumber: http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=en&id=14583&type=9#.VJpuCSugA